Warga Aceh Gugat PLN – Hatta menarangkan kalau belasan ribu ekor ayamnya itu mati akhir September kemudian. Waktu itu, di Aceh lagi berlaku pemadaman listrik secara bergilir serta pernah terjalin byarpet.
” Jadi pada bertepatan pada 29 September, di siang hari jam satu siang, lebih kurang, listrik itu telah mati padam, hidup padam, hidup padam. Kala jam 5, entah jam 6 sore, itu baru mati total,” tutur Hatta, dihubungi Liputan6. com, Sabtu siang( 15/ 11/ 2025).
Hatta berkata dirinya pernah memberi tahu pemadaman tersebut ke suatu tim berisi gabungan para pebisnis lokal. Tujuannya, supaya pejabat PLN setempat yang kebetulan pula terletak di dalam tim tersebut ketahui.
Hatta merasa takut pada keadaan ayam ternaknya sebab blower ataupun perlengkapan perputaran hawa buat kandang ayamnya tidak berperan bila arus listrik putus. Sedangkan, nasib ribuan ayam di dalam kandang yang telah siap panen tergantung pada blower tersebut.
” Sistem di dalam itu memanglah sangat identik dengan sistem hidup blower, siklus hawa angin. Sebab ia tertutup seluruh. 2 puluh menit blower itu enggak hidup, ia (ayam, red) down. Memanglah sangat ketergantungan dengan listrik,” jelas Hatta.
Baca Juga : Pria Di Lampung Baru Keluar Rutan Sudah Ditangkap Lagi
Malam harinya, 2 orang petugas PLN tiba ke peternakan Hatta buat mengecek. Kepada salah seseorang petugas, Hatta pernah bertanya kapan listrik hendak kembali wajar sebab peternakan tersebut cuma mempunyai satu genset.
” Sedangkan aku ayam telah ingin 30 hari, ingin panen. Aku bilang seperti gitu. Mereka jawab, kita doakan saja, bang. Kami tidak ketahui,” cerita Hatta.
Warga Aceh Gugat PLN Karena Merugi Atas Padamnya Listrik
Listrik kembali wajar dini hari menjelang subuh. Tetapi, jumlah voltase nyatanya tidak lumayan sehingga Hatta memilah buat senantiasa memakai genset buat mengaktifkan blower di peternakan.
Keesokan harinya, Hatta kembali mengirimkan pesan lewat WhatsApp ke no yang baginya terkoneksi lewat fitur pengaduan PLN Mobile. Tetapi, ia mengaku tidak sempat menemukan jawaban kapan listrik hendak kembali wajar.
Hatta waktu itu mulai merasa riskan karena genset salah satunya yang terdapat di peternakan telah bekerja sangat lama. Apabila butuh, Hatta hendak membeli genset baru buat menjamin supaya belasan ribu ekor ayamnya bisa dipanen pas waktu, namun ia butuh kejelasan dari pihak PLN hingga kapan listrik padam.
” Di jam 3, jam 15 lebih kurang, generator itu hangus. Mesin hidup namun generatornya tidak dapat menghasilkan arus listrik,” cerah Hatta.
Hatta serta para pekerja di peternakannya langsung merendahkan tenda supaya kandang ayam mempunyai perputaran. Mereka pula menyemprotkan air supaya temperatur tubuh unggas- unggas tersebut senantiasa terpelihara.
” Namun ayam enggak selamat waktu itu. Dalam 20 menit, 90 persen ayam telah mati,” sebut Hatta.
Bagi Hatta, dalam keadaan panik, ia pernah menghubungi petugas PLN setempat buat meminjam genset, namun kata petugas yang menerima telepon dari Hatta, menanggapi mereka tidak mempunyai genset buat dipinjamkan. Hatta sendiri sesungguhnya ketahui kalau ayam- ayamnya dikala itu telah tidak tertolong lagi.
” Walaupun terdapat genset juga, itu ayam enggak dapat terselamatkan. 2 puluh 5 menit saja mati listrik, telah kacau sebab sistemnya, kan, gunakan blower,” keluhnya.
Sedangkan itu, kendaraan pengangkut yang hendak menyuplai ayam- ayam tersebut ke orang dagang, bagi Hatta, lagi berjalan mengarah ke peternakan. Hatinya juga sirna mumur kala itu. Dapatkan grandprize besar bersama Paman Empire link permainan online dengan hadiah terbesar!

